Jumat, Januari 30, 2009

Sekilas Telkom Indonesia

PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk. (TELKOM) merupakan perusahaan penyelenggara informasi dan telekomunikasi (InfoComm) serta penyedia jasa dan jaringan telekomunikasi secara lengkap (full service and network provider) yang terbesar di Indonesia. TELKOM (yang selanjutnya disebut juga Perseroan atau Perusahaan) menyediakan jasa telepon tidak bergerak kabel (fixed wire line), jasa telepon tidak bergerak nirkabel (fixed wireless), jasa telepon bergerak (cellular), data & internet dan network & interkoneksi baik secara langsung maupun melalui perusahaan asosiasi.

Sampai dengan 31 Desember 2007 jumlah pelanggan TELKOM sebanyak 63,0 juta pelanggan yang terdiri dari pelanggan telepon tidak bergerak kabel sejumlah 8,7 juta, pelanggan telepon tidak bergerak nirkabel sejumlah 6,4 juta pelanggan dan 47,9 juta pelanggan jasa telepon bergerak. Pertumbuhan jumlah pelanggan TELKOM di tahun 2007 sebanyak 29,9%.


Sejalan dengan visi TELKOM untuk menjadi perusahaan InfoComm terkemuka di kawasan regional serta mewujudkan TELKOM Goal 3010 maka berbagai upaya telah dilakukan TELKOM untuk tetap unggul dan leading pada seluruh produk dan layanan.

Hasil upaya tersebut tercermin dari market share produk dan layanan yang unggul di antara para pemain telekomunikasi. Selama tahun 2007 TELKOM telah menerima beberapa penghargaan baik dari dalam maupun luar negeri, di antaranya:

Indonesia's Best for Shareholders' Rights and Equitable Treatment dari majalah ASIAMONEY, Top Brand Award 2000-2007 dari Frontier Consulting Group, Zero Accident Award dari Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, The Best CDMA Provider, Call Center Award 2007, IMAC Award 2007 dari Frontier Consulting Group, 2007 Marketing Award, Anugerah Business Review 2007, Juara Umum Anugerah Media Humas Nasional 2007, ICSA 2007, Best Social Reporting ISRA 2007, Fabulous 50, Best IT Project dari SAP, Value Creator Award 2007 dan Investor Award 2007.


Saham TELKOM per 31 Desember 2007 dimiliki oleh pemerintah Indonesia (51,82%) dan pemegang saham publik (48,18%). Saham TELKOM tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI), New York (NYSE), London Stock Exchange (LSE) dan Tokyo Stock Exchange, tanpa tercatat. Harga saham TELKOM di BEI pada akhir Desember 2007 meningkat 0,5% menjadi Rp 10.150 dari Rp 10.100 pada periode yang sama tahun 2006.
Nilai kapitalisasi pasar saham TELKOM pada akhir tahun 2007 mencapai Rp 204.624 miliar atau 10,3 % dari kapitalisasi pasar BEI


Dengan pencapaian dan pengakuan yang diperoleh TELKOM, penguasaan pasar untuk setiap portofolio bisnisnya, kuatnya kinerja keuangan, serta potensi pertumbuhannya di masa mendatang, saat ini TELKOM menjadi model korporasi terbaik Indonesia.

Menebak arah telekomunikasi 2009

oleh : Arif Pitoyo



Sepanjang tahun ini, tak banyak regulasi di sektor telekomunikasi yang berhasil ditelurkan oleh regulator maupun Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo). Genderangnya tak senyaring dan seramai periode 2005-2007. Pemerintah dan regulator lebih banyak melakukan kajian-kajian dan konsultasi publik, sementara regulasi dan berbagai macam seleksi atau tender masih belum menunjukkan hasilnya.

Sebut saja regulasi mengenai broadband wireless access (BWA), universal service obligation (USO), sistem kliring trafik telekomunikasi, pelaksnaan pembangunan Palapa Ring, penataan slot satelit, dan regulasi mengenai layanan pesan singkat (SMS) premium, pengaturan tarif interkoneksi dan ritel yang sudah memisahkan antara FWA dan jaringan tetap kabel, pemberian dua kanal tersisa di frekuensi 800 MHz kepada operator FWA, penambahan frekuensi untuk operator 3G, serta tarif interkoneksi SMS.

Adapun regulasi sektor telekomunikasi yang berhasil diselesaikan pemerintah tahun ini a.l. regulasi mengenai menara bersama, ketentuan mengenai quality of service operator telekomunikasi, dan penetapan tarif interkoneksi baru yang membawa penurunan tarif ritel. Perkembangan teknologi yang mengiringi telekomunikasi juga sedemikian cepat, sehingga dibutuhkan regulasi yang juga cepat dan terarah.

Padahal, industri telekomunikasi masih menjadi primadona utama investasi asing dan sebagai pendorong tumbuhnya perekonomian nasional. Sektor telekomunikasi menyerap kredit baru perbankan sebanyak Rp20 triliun atau 0,83% dari total kredit baru yang tersalurkan selama periode Januari-September 2008.

Sebagai gambaran, berdasarkan prediksi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) dan Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI), nilai bisnis industri telekomunikasi di Indonesia tahun ini diprediksi akan mencapai Rp60 triliun-Rp70 triliun yang dipicu oleh pembangunan jaringan oleh operator ke sejumlah daerah dan kota dan makin meningkatnya jumlah pelanggan.

Saat ini jumlah pelanggan telekomunikasi nirkabel di Indonesia mencapai 126 juta orang dan tahun depan diproyeksikan menembus 150 juta orang, sementara margin EBITDA (earning before interest, tax, depreciation, and amortization) rata-rata operator berkisar antara 40%-50%.

Berdasarkan catatan Bisnis, belanja modal XL tahun ini mencapai US$1,25 miliar dengan pendapatan usaha pada periode Januari-September 2008 naik 60% dibandingkan dengan sembilan bulan pertama tahun lalu menjadi Rp9,2 triliun.

Sementara Indosat, sudah mengalokasikan belanja modal sebesar US$1,4 miliar tahun ini. Anak perusahaan Qatar Telecommunciation itu membukukan pendapatan operasional mencapai Rp13,65 triliun, terbesar dari seluler yang mencapai Rp10,23 triliun, sementara Ebtida-nya sekitar Rp6,72 miliar. Belanja modal Telkomsel untuk tahun ini adalah sekitar US$1,5 miliar.

EBITDA (earning before interest, tax, depreciation, and amortization) rata-rata operator berkisar 40%-50%.


Merger dan konsolidasi

Bagaimana dengan tahun depan? Meski nada optimisme masih terdengar, tak sedikit juga pihak yang merasa pesimistis menghadapi tahun depan, terimbas dampak krisis global sehingga memaksa operator untuk melakukan merger dan konsolidasi jaringan.

Yang paling terkena dampak krisis ekonomi adalah operator kecil karena tidak memiliki dana cukup untuk membangun jaringan, sementara pelanggannya masih sedikit. Lambatnya pertumbuhan industri telekomunikasi juga bisa dilihat dari turunnya belanja modal sejumlah operator dibandingkan dengan tahun ini. Belanja modal tersebut juga kebanyakan didapat dari pinjaman.

Bila melihat sisi regulasi, di sektor telekomunikasi diprediksi akan lebih semarak tahun depan, mengingat tender USO juga sudah bisa diketahui pemenangnya, serta lahirnya ketentuan mengenai tarif baru dan sistem kliring trafik telekomunikasi. Penerapan biaya hak penggunaan frekuensi (BHP) berdasarkan bandwidth dan unified access licensing juga diprediksi terjadi tahun depan, sementara masalah portability number mungkin masih sebatas kajian internal regulator.

Masalah penataan frekuensi broadband wireless access juga diprediksi akan menemukan titik terang sehingga bisa jadi akan terjadi pertarungan pemberian layanan dan perebutan pelanggan antara 3G dan WiMax.

Mengenai penarifan operator seluler, tentunya akan sangat tergantung pada perhitungan dan evaluasi tarif interkoneksi yang sudah ditetapkan April tahun ini. Selain itu, kebijakan yang berkaitan dengan menara bersama juga akan memengaruhi rencana bisnis operator telekomunikasi karena tentunya persaingan akan terjadi pada tingkat pelayanan, bukannya pada luasnya cakupan layanan. Apalagi, sebgain besar operator sudah menjual sebagian menaranya sehingga secara otomatis persaingan akan lebih meningkat lagi.

Perubahan struktur tarif juga dipastikan akan terjadi seiring dengan rencana penerapan sistem kliring tarifk telekomunikasi (SKTT) awal tahun depan. Saat ini SKTT sudah berada di Bagian Hukum Ditjen Postel setelah adanya kesepakatan antara operator telekomunikasi dengan PT Pratama Jaringan Nusantara (PJN) akhir bulan lalu.


Frekuensi dan penomoran

Sebenarnya ada beberapa hal yang sangat mendesak untuk dikaji dan diselesaikan regulator, yaitu di antaranya masalah frekuensi dan penomoran.

Frekuensi karena sejumlah operator seperti PT Excelcomindo Pratama Tbk dan PT Telkomsel sudah kesulitan bergerak bebas di layanan 3G karena keterbatasan pita yang tersedia.

Sementara itu, Esia dan Star One juga paling tidak membutuhkan satu kanal lagi untuk meningkatkan kapasitas pelanggannya dan menyediakan layanan yang lebih baik misalnya untuk Ev-Do.

Padahal pemerintah dan regulator dua tahun yang lalu sudah menetapkan pemberian kanal tersisa di pita 800 MHz adalah Desember tahun ini.

Mengenai penomoran, untuk seluler mungkin masalah penomoran bukanlah persoalan yang pelik, mengingat empat nomor awal setiap operator adalah berbeda. Lagi pula, penomoran seluler tidak terkait dengan kode area tertentu.

Bagaimana dengan FWA? Sejumlah operator mengaku kehabisan stok blok nomor, sebut saja layanan Indosat Star One, layanan Hepi Mobile-8, dan layanan Esia milik Bakrie Telecom.

Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar pernah mengungkapkan dalam era monopoli, blok penomoran dikuasai oleh PT Telkom Tbk. Namun seiring dengan pembukaan pasar kompetisi, lanjutnya, pemerintah merasa perlu menata kembali masalah penomoran tersebut.

Bila pemerintah tidak segera menata masalah penomoran tersebut, pertumbuhan pelanggan FWA yang tahun depan diprediksi mencapai enam juta pelanggan bakal terhambat.

Operator FWA seperti Bakrie Telecom atau Telkom mampu menjual nomor sebanyak 800.000 hingga satu juta dalam waktu satu bulan, sementara rata-rata nomor yang tersisa pada operator FWA di luar Telkom tersebut tidak lebih dari 1,5 juta nomor.

Regulasi memang selalu memengaruhi suatu industri. Regulasi yang bisa mengakomodasi kepentingan semua pihak, terutama masyarakat, akan menggairahkan sektor industri tersebut dan secara tidak langsung menggerakkan roda perekonomian nasional. Hal tersebut tentunya menjadi pekerjaan rumah anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) baru yang sebentar lagi akan dilantik oleh Menkominfo.

Akhirnya, pemerintah sebaiknya memprioritaskan kebijakan yang dianggap paling mendesak dan prioritas, dan tidak mengutamakan kebijakan yang bisa jadi dianggap pemanis saja.(arif.pitoyo@bisnis.co.id)

Tahun 2009 Industri Telekomunikasi Indonesia Melambat


JAKARTA, SENIN - Industri telekomunikasi di dalam negeri pada 2009 diperkirakan akan melambat, karena tekanan krisis keuangan global pada awal tahun depan akan makin menguat.

"Krisis keuangan global akan menghambat para vendor telekomunikasi meningkatkan perannya di pasar domestik sehingga pertumbuhan industri telekomunikasi pada 2009 cenderung melambat," kata Presiden Direktur PT Excelcomindo Pramata Tbk (XL) Hasnul Suhaimi di Bukit tinggi, Padang, Sumatera Barat, akhir pekan lalu.

Ia mengatakan, pasar industri telekomunikasi di dalam negeri sebenarnya masih besar mencapai 140 juta nasabah, karena itu XL berusaha membuat jaringan distribusi baru untuk dapat menarik nasabah lebih baik. "Kami berusaha mencari nasabah lebih besar pada tahun ini untuk mengantipasi melambatnya industri telekonomunikasi tahun depan," katanya.

Nasabah XL baru mencapai 25 juta orang, jadi pasar yang harus direbut itu masih besar, meski ada kekhawatiran dengan krisis keuangan global yang terjadi akhir-akhir ini.

"Penambahan jaringan distribusi baru yang akan dibangun kemungkinan tidak akan segencar apa yang telah dilaksanakan XL, namun penambahan pelanggan harus dilaksanakan lebih baik," katanya.

Industri telekomunkasi di dalam negeri sejak beberapa tahun lalu tumbuh dengan pesat, karena para vendor telekomunikasi aktif mengembangkan usahanya. "Pertumbuhan industri telekomunikasi pada tahun ini diperkirakan mencapai 40 persen namun pada tahun depan diperkirakan akan turun menjadi 20 persen," kata Hasnul.

Meski demikian industri telekomunikasi di dalam negeri masih menjanjikan. Jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240 juta orang merupakan pasar potensial bagi perkembangan industri telekomunikasi apalagi industri ini merupakan kebutuhan yang sangat mendasar. "Kami tetap optimistis pasar masih tumbuh sekalipun gejolak krisis keuangan global menghambat pertumbuhan tersebut," ucapnya.


MBK
Sumber : Antara

Cross-Layer: Fenomena dan Keberadaannya di Dunia Penelitian dan Industri

oleh: Arief Hamdani Gunawan
Telematics Regulatory Analysis - TELKOM INDONESIA

Tulisan ini mengulas cross-layer yang merupakan salah satu penelitian yang ramai dibicarakan belakangan ini. Isu cross layer yang baru itu mulai dibahas di text book sejak tahun 2006. Isu ini menjadi penting, terlebih pada peer-to-peer communications maupun pada sensor communications di bidang wireless communications.
Dalam tulisan ini berturut-turut akan dibahas mengenai latar belakang, dorongan wireless dan Internet, model, arsitektur dan di bagian akhir akan diberikan kesimpulan yang dituliskan pada bagian penutup

Latar Belakang

Cross-layer merupakan hal yang relatif tua bagi dunia penelitian dan industri, sebagai tandanya adalah cross-layer banyak dijumpai di dunia telecommunication engineering yang menjadi luar biasa perkembangannya dengan teknologi wireless. Demikain juga data networks yang menjadi luar biasa perkembangannya dengan standard Internet. Namun, cross-layer masih sangat muda di dunia pendidikan, bahkan masih sangat jarang atau bahkan mungkin belum pernah ada suatu mata kuliah di Indonesia yang khusus membahasnya.

Cross-layer issues ini muncul karena perlunya pertimbangan beberapa layer (misalnya layer 7 OSI) untuk disolusikan. Misalnya ketika pekerjaan network coding pada suatu Ad Hoc Wireless yang ternyata perlu mempertimbangkan physical layer (termasuk juga data link layer) yang ada, mengingat keterbatasan physical layer, seperti keterbatasan power, transfer rate, yang juga akan mempengaruhi performansi pada network layer. Sehingga diharapkan optimalisasi pada physical layer dapat memberikan optimalisasi pada network layer.

Perkembangan ad hoc network dan sensor network di bidang wireless ini telah mengakibatkan berbagai bentuk wireless communications yang beragam, yang mendorong semakin perlunya pembahasan cross-layer. Berbagai bentuk wireless communications dapat digambarkan sebagai berikut.

Gambar 1. Berbagai bentuk wireless communications [Fitzek, 2007]

Dari sisi computer engineering, cross-layer menjadi sangat menarik karena computer engineer pada akhirnya dapat memandang physical layer bukan sekedar media transmit & receive saja, tetapi ternyata harus `disentuh` untuk dapat memberikan optimalisasi pada layer-layer di atasnya. Sementara dari sisi telecommunication engineering cross-layer menjadi sangat menarik karena telecommunication engineer pada akhirnya dapat memandang optimalisasi physical layer dan network layer terjadi saling terkait satu sama lain sehingga optimalisasi dapat diciptakan melalui pertimbangan layer-layer tersebut.

Prof. Anthony Ephremides seorang IEEE Distinguished Lecturer dari University of Maryland pernah memberikan perkuliahan di Jakarta pada akhir bulan Desember 2007 mengenai Cross Layering issues in Wireless Network. Prof. Ephremides menekankan bahwa cross-layer sama sekali bukan ditujukan untuk mengeliminasi suatu layer, namun untuk mempertimbangkan eksistensi dan optimalisasi antar layer ketika diperlukan pekerjaan peformansi di satu layer. Analogi cross-layer adalah seperti memancing ikan, di mana ada beberapa hal penting di situ, yaitu;

  • Must capture interactions, yang memiliki analogi dengan uncovering the "hooks"
  • Must exploit them, yang memiliki analogi dengan catching the "fish"
  • Must illuminate the "Dark Side" of networking, untuk menghindari avoiding Kumar`s legendary spaghetti, dimana masalah menjadi sangat rumit dan tidak bisa terpecahkan.

Dorongan Wireless dan Internet

Pembahasan cross-layer ini sangat penting di dunia wireless yang mempunyai kemampuan mobilitas dan dukungan terhadap Internet. Kemampuan mobilitas menjadi hal penting bagi cross-layer karena adanya keterbatasan power yang harus disediakan oleh perangkat wireless yang juga harus tetap bisa menjamin layanan. Perangkat yang mobile ini harus mempertimbangkan user interface, communication interface, dan sekaligus built-in resources, yang digambarkan sebagai berikut;

Gambar 2. Keberadaan terminal mobile [Fitzek, 2007]

Dukungan terhadap Internet menjadi hal penting bagi cross-layer karena Internet sudah menjadi suatu standar teknologi dan layanan yang harus disediakan oleh operator bagi masyarakat. Internet ini menjadi dasar dalam jaringan 4G kedepan seperti yang digambarkan berikut ini;

Gambar 3. Keberadaan IP Network pada 4G [Glisic, 2006]

Untuk menjawab tuntutan perkembangan wireless dan Internet inilah maka cross-layer protocol design memerlukan keahlian inter-discipline pada communications, signal processing, serta network theory and design.

Model

Perkembangan dunia wireless dan Internet di atas menuntut suatu kemampuan engineering untuk dapat menyelesaikan beberapa kompleksitas yang terjadi, misalnya:

  • Information transfer rate meningkat sesuai dengan menurunnya jumlah simultaneous links yang terjadi. Dengan demikian effective rate bisa terjadi dengan mereduksi setiap link yang harus diaktifasi pada suatu waktu tertentu. Sedangkan di dunia telekomunikasi pada umumnya maupun di dunia wireless pada khususnya, technical complexity akan semakin meningkat untuk memberikan information transfer rate yang semakin tinggi dan menyediakan jumlah simultaneous links yang semakin banyak.
  • Transfer informasi atau telekomunikasi cenderung semakin berharga pada jarak yang semakin jauh. Secara ekstrim kedua individu tidak akan terlalu direpotkan dengan pertukaran informasi ketika duduk tepat bersebelahan karena kondisi yang dialami kedua individu tersebut cenderung sama. Sedangkan informasi tentang kondisi dua individu yang saling berjauhan dapat menjadi hal yang berharga untuk saling diketahui. Oleh karena itu, dalam dunia telekomunikasi pada umumnya maupun di dunia wireless pada khususnya, technical complexity akan makin meningkat seiring dengan semakin jauhnya pengiriman informasi.

Pada dua contoh kompleksitas di atas, kemampuan transmisi data yang harus dijawab di sini haruslah menyinggung physical layer. Untuk itu, cross-layer design dibutuhkan untuk meningkatkan kemampuan transmisi data. Peningkatan kemampuan ini dapat dicapai melalui optimasi beberapa parameter bersama yang ada pada berbagai layers daripada memberlakukannya secara terpisah-pisah di setiap layer. Melalui cross-layer protocol design inilah dimungkinkan adanya komunikasi antara non-adjacent layers sebagai suatu extension dari model yang ada sebelumnya, yaitu OSI model, yang digambarkan sebagai sebagai berikut.

Gambar 4. Cross-layer Model [Sarkar, 2008]

Arsitektur

Cross-layer design mempertimbangkan berbagai layers dari protocol stack secara bersama-sama, baik sebagai sebuah joint design maupun untuk information exchange antara layers. Mengingat pada suatu proses desain seperti halnya cross-layer design mengandung suatu state of the art, maka pada arsitektur cross-layered terdapat beberapa model, antara lain;

Tabel 1. Aristektur cross-layer [Jurdak: 2007]

Beberapa model tersebut dapat digambarkan sebagai berikut;

Gambar 5. Model Mobileman [Jurdak: 2007]

Gambar 6. Model Crosstalk [Jurdak: 2007]

Penutup

Cross-layer di dunia telecommunication engineering menjadi luar biasa perkembangannya dengan teknologi wireless. Dmeikian juga data networks yang menjadi luar biasa perkembangannya dengan standard Internet. Issues ini muncul karena perlunya pertimbangan beberapa layer (misalnya layer 7 OSI) untuk saling dipertimbangkan secara bersama-sama untuk disolusikan. Pada pekerjaan network coding untuk suatu Ad Hoc Wireless misalnya, diperlukan pertimbangan physical layer (termasuk juga data link layer) yang ada, mengingat keterbatasan physical layer, seperti keterbatasan power, transfer rate, yang juga akan mempengaruhi performansi pada network layer. Sehingga optimalisasi pada physical layer dapat memberikan optimalisasi pada network layer dan problem semacam inilah yang menjadi titik perhatian pada cross-layer. Melalui cross-layer protocol design dimungkinkan adanya komunikasi antara non-adjacent layers sebagai suatu extension dari model yang ada sebelumnya, yaitu OSI model.

Bacaan yang disarankan:

  1. Fitzek, Frank H.P. dan Frank Reichert: 2007. "Mobile Phone Programming and its Application to Wireless Networking. Springer, USA.
  2. Glisic, Savo G.: 2006. "Advanced Wireless Networks: 4G Technologies". John Wiley & Sons Ltd, UK.
  3. Goldsmith, Andrea: 2005. "WIRELESS COMMUNICATIONS". Cambridge University Press, USA.
  4. Jurdak, Raja: 2007. "Wireless Ad Hoc and Sensor Networks: A Cross-Layer Design Perspective" Springer, USA.
  5. Georgiadis, Leonidas, Michael J. Neely dan Leandros Tassiulas: 2006. "Resource Allocation and Cross-Layer Control in Wireless Networks". now publishers, USA.
  6. Sarkar, Subir Kumar , T G Basavaraju dan C Puttamadappa: 2008. "Ad Hoc Mobile Wireless Networks: Principles, Protocols, and Applications". Auerbach Publications, USA.
  7. Wu, Shih-Lin dan Yu-Chee Tseng: 2007. "WIRELESS AD HOC NETWORKING: Personal-Area, Local-Area, and the Sensory-Area Networks". Auerbach Publications, USA.

Produk TELKOM Indonesia

Oleh : Arif Ust

Hai kawan dah lama nih gak posting tentang perjalanan TELKOM heheee…biasa lagi sibuk Ujian Akhir Semester, baik kita lanjutkan saja cerita perjalanan TELKOM. Kemarin saya sudah membahas tentang Sejarah Telekomunikasi Indonesia TELKOM Bag 1 dan Sejarah Telekomunikasi Indonesia TELKOM Bag 2 apakah kawan ada yang belum membaca?? Kalau belum sebaiknya baca terlebih dahulu biar ceritanya nyambung.

Baik sekarang saya akan menjelaskan produk-produk yang telah di keluarkan oleh TELKOM. Banyak sekali produk-produk yang telah di hasilkan oleh TELKOM yang saya ketahui saja ada 7 di antaranya Telkom PSTN, Telkom Flexi, Telkom Vision, TelkomNet Instan, Telkom Speedy, Telkom Virtual Net dan Telkom Atinet. Banyak kan? Ini semua berkat dukungan dari pemerintah terutama rakyat dengan tujuan untuk memajuakan telekomunikasi dan Informasi di Indonesia. Sekarang saya akan membahas produk Telkom PSTN, Telkom Vision dan TelkomNet Instan.

Pembahasan pertama saya adalah Telkom PSTN Produk ini berfungsi sebagai Sambungan telepon yang dapat digunakan untuk fungsi telepon dan facsimile, PSTN ini juga merupakan cikal bakal koneksi Internet pertama yang menggunakan kabel data kalau kawan ingin memasang internet pasti yang di tanya duluan adalah salauran telepon, zaman sekarang sih dah serba mudah internet sudah memakai sinyal GPRS tapi perjalanan internet di Indonesia jangan sampai lupa.

Produk selanjutnya adalah Telkom Vision Sejak layanan Pay TV Cable di Jakarta pada bulan Oktober 1999 sebagai layanan pertama TELKOMVision. Kawan juga dapat menikmati program TV multi channel yang mencapai hampir 40 channel TV dengan kualitas tinggi yang dapat dipilih mulai dari berita, film, hiburan, olahraga, musik, dan pendidikan wau…ajib gak tuh nongkrong seharian di TV nih. Tapi untuk saat ini coverage area layanan Pay TV Cable TELKOMVision dan telah menjangkau wilayah Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Denpasar.

Produk terakhir yang saya bahas adalah TelkomNet Instan produk ini memberikan pelayanan dalam hal memperoleh Internet dial-up secara mudah dan tanpa berlanggan dengan konsep layanan mudah dan sederhana.

Wah banyak juga ya….produk TELKOM ini saja batu 3 Produk yang saya jelaskan 4 lagi nyusul ya…hehee….ok sampai di sini dulu Semoga semua produksi buatan putra dan putrid bangsa Indonesia ini dapat di nikmati oleh masyarakat luas Amin. Jangan lupa berikan komentar untuk artikel ini agar ada feedback dari penulis dan pembaca.

Promosi dan Rotasi di Lingkungan Telkom Group

Jakarta, 29 Januari 2009 – PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) hari ini (29/2) mengumumkan promosi dan pergantian pejabat di lingkungan Telkom Group.

Posisi Direktur Utama PT. Telekomunikasi Indonesia Seluler (Telkomsel) kini dijabat oleh Sarwoto menggantikan Kiskenda Suriahardja . Sarwoto sebelumnya menjabat sebagai Executive General Manager (EGM) Divisi Infrastruktur Telekomunikasi PT. Telkom. Selanjutnya, Kiskenda akan menjabat sebagai Staf Ahli Direktur Utama PT. Telkom Bidang Marketing.

Direktur Pengembangan PT Telkomsel yang sebelumnya dijabat oleh Syarif Syahrial Ahmad kini dijabat oleh Herfini Haryono yang sebelumnya menjabat sebagai Vice President Business Control Telkomsel. Selanjutnya Syarif Syarial Ahmad akan menjabat sebagai Staf Ahli Direktur Utama PT. Telkom Bidang Operasi Pemeliharan dan Teknik.

Pada saat bersamaan Direktur Utama Telkom, Rinaldi Firmansyah Menyerahkan Surat Keputusan (SK) Direksi kepada delapan pejabat Telkom, tiga diantaranya merupakan SK memasuki masa pensiun.

Seperti disampaikan oleh Vice President Public and Marketing Communication Telkom, Eddy Kurnia, rotasi dan promosi di lingkungan Telkom dilakukan sesuai dengan kebutuhan riil yang berkembang saat ini dan merupakan hal yang biasa dan dapat terjadi setiap saat, serta untuk menjawab tantangan kompetisi industri telekomunikasi yang semakin ketat.

Visi dan Misi TELKOM INDONESIA

Visi

To become a leading InfoCom player in the region

Telkom berupaya untuk menempatkan diri sebagai perusahaan InfoCom terkemuka di kawasan Asia Tenggara, Asia dan akan berlanjut ke kawasan Asia Pasifik.

Misi

Telkom mempunyai misi memberikan layanan " One Stop InfoCom Services with Excellent Quality and Competitive Price and To Be the Role Model as the Best Managed Indonesian Corporation " dengan jaminan bahwa pelanggan akan mendapatkan layanan terbaik, berupa kemudahan, produk dan jaringan berkualitas, dengan harga kompetitif.

Telkom akan mengelola bisnis melalui praktek-praktek terbaik dengan mengoptimalisasikan sumber daya manusia yang unggul, penggunaan teknologi yang kompetitif, serta membangun kemitraan yang saling menguntungkan dan saling mendukung secara sinergis.

Telkom Indonesia mengharapkan peningkatan revenue pada tahun 2006 naik hingga 20% - CEO

Bali ( Dow Jones) Presiden Telekomunikasi Indonesia mengharapkan meningkatnya penerimaan sebanyak 20% pada tahun 2006 dan mengacu pada pertumbuhan konsumen itu sendiri. Telkom, perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia mengharapkan mendapat 12 juta pelanggan baru yang meliputi handphone, fixed lined dan fix wireless users, Pemimpin eksekutif arwin Rasyid mengatakan pada Don Jones Newswires pada sidelines dari International Investment Conference.

Telkom memiliki 65% dari asset dan pelanggan operator mobile (phone?) terbesar di Indonesia (check again rin). Bagi Telkom sendiri, Rasyid mengatakan bahwa mereka mengharapkan perusahaannya memiliki 8 juta pengguna telepon selular baru. Analisis mengatakan bahwa target ini nyata diberikan oleh (the low level of penetration) dari handphone di Indonesia. Hanya sekitar 19% dari populasi Indonesia memiliki handphone dari 220 juta orang, sehingga ini menyediakan kesempatan untuk memajukan (perusahaan Telkom. Analisa mengharapkan peningkatan hingga 25% pada tahun 2006 dan 35% pada tahun 2007.

Telkom memiliki sekitar 8,5 juta (fixed line) pelanggan sampai akhir December 2005, dan mengharapkan peningkatan 2% pada tahun ini. Untuk tahun 2005, Rasyid mengaharapkan penerimaan Telkom akan bertumbuh hingga 25% atau sekitar IDR 42,5 triliun (us $1 + IDR 9120) dari sekitar IDR 34 triliun di tahun 2004. Telkom akan mengumumkan penghasilan 2005 pada bulan Maret.

Rasyid mengatakan, Telkom berencana menghabiskan sekitar IDR 11 triliun ($ 1,2 juta) dalam modal (expenditure) tahun ini, sama seperti tahun lalu, dan mecari jalan untuk (finance the investment). Tanpa (berbasa basi = elaborating ?) mengatakan bahwa mereka mencari pilihan terbaik / jalan terbaik.

Kim Eng Securities mengharapkan keuntungan bersih (net profit) telkom meningkat hingga IDR 7,1 triliun atau 18% dari IDR 6 triliun pada tahun 2004. The securities Firm mengharapkan laba bersih (net profit) Telkom pada tahun 2006 adalah IDR 8,72 triliun on revenue of IDR 46,66 triliun, dibandingkan dengan IDR 40,18 triliun pada tahun 2005. Pemerintah memiliki 51,19% dari Telkom. (I Made Semntana @ Dow Jones and Company, Inc).